Minggu, 26 Juli 2015

Sejarah Pariwisata Bali


Bali mulai dikenal bangsa asing ketika pada tahun 1579 Cornelis de Houtman terpesona dengan keindahan pulau Bali. Bangsa Indonesia pada waktu itu cukup terkenal sebagai penghasil rempah-rempah, akan tetapi Pulau Bali mulai dikenal menarik disisi keindahan alam, budaya dan kulturnya. 

Pada 1914 di masa penjajahan Belanada, setelah situasi di pulau Bali dianggap cukup damai, pemerintah Hindia Belanda menggantikan peran tentara kependudukan dengan petugas sipil. Pada waktu itu Bali sudah bisa diakses dari Surabaya dengan kapal laut. Keindahan Bali mulai dikenal berkat artikel dan lukisan tentang Bali yang dibuat para kolega penjajah Belanda yang sempat mengunjungi Bali. Hal itu membuat sebagaian orang Eropa dan Amerika ingin mengunjungi Bali. Pada awalnya para wisatawan yang mengunjungi Bali, datang menggunakan kapal laut rute Batavia - Surabaya- Makasar. 

Infrastruktur perhubungan mulai giat dibangun pemerintah kolonial Belanda. Pada 1926 Singaraja sebagai pusat pemerintahan mempunyai tiga jalur jaringan lalu lintas. Pertama jalan dari Singaraja menuju Kubutambahan dan jalur Kintamani menuju Denpasar sepanjang 118 Km. Kedua, jalur Singaraja, Bubunan dan Pupuan sepanjang 113 km dan ketiga melalui Danau Bratan Bedugul sepanjang 78 km.

Pada 1924 wisatawan secara khusus mulai datang ke Bali setelah dibuka suatu pelayaran mingguan antara Singapura, Batavia, Semarang, Surabaya singgah di Bali di Pelabuhan Singaraja, baru kemudian ke Makasar. Pengelolanya adalah KPM (maskapai pelayaran kerajaan Belanda) yang bersedia menerima penumpang di atas kapal-kapalnya. Sebelumnya kapal-kapal itu hanya mengangkut hasil bumi kopra, kopi, sapi dan terutama babi. Jalur pelayaran ini akhirnya bernama Bali Express.

Begitu tiba di pelabuhan Singaraja, Bali utara, para wisatawan menyewa kuda atau kereta kuda untuk perjalanannya melihat kawasan Kintamani, Ubud dan sekitarnya. Untuk bermalam mereka dapat memakai pesanggrahan-pesanggarahan milik pejabat kolonial yang kosong.

Beberapa waktu kemudian perwakilan KPM di Singaraja diangkat sebagai wakil resmi Official Tourist Buerau di Bali. Berkat usaha KPM juga, para wisatawan dapat menyewa taksi, lengkap dengan driver dan pramuwisata berbahasa Inggris. Mereka juga menyewakan kamar penginapan di pesanggarahan milik mereka.

Data-data yang dikeluarkan Official Tourist Bureau pada tahun 1924 yang mencatat ada 213 pelancong yang datang ke Bali. Jumlah wisartawan terus meningkat secara teratur. Pada 1926 menurut Majalah Tourism in NetherlandsEast Indies edisi 8 Februari 1927 ada sebanyak 480 wisatawan mengunjungi Bali.

Majalah itu juga menawarkan paket wisata termasuk akomodasi bagi mereka yang ingin menyaksikan upacara Ngaben di kawasan Karangasem Bali pada Mei 1927. Dalam penawarannya, calon wisatawan akan diangkut dengan kapal Swartbandt yang bertolak dari Surabaya. Sesampainya di Bali para wisatawan disediakan mobil dan menginap di pesanggarahan milik pemerintah kolonial Belanda.

Di antara para pelancong yang datang ke Bali ada Brigadir Jendral L.C.Koe dari Angkatan perang Inggris yang datang bersama istrinya dibulan Januari 1927. Perwira tinggi itu mengunjungi Bali dalam rangkaian kunjungan ke Sumatera dan Jawa. Pada 1929 jumlah pelancong sudah mencapai 1428 orang. Jumlah wisatawan sempat merosot setelah terjadinya depresi ekonomi dunia pada tahun 1930.

Pada 1928 KPM membuka Bali Hotel sebagai pengganti pesanggrahan di Denpasar. Lokasinya di bekas tempat terjadinya peristiwa Perang Puputan tahun 1906. Pesanggrahan Kintamani dibenahi, dikhususkan buat para wisatawan yang ingin menikmati pemandangan Danau Batur dan Gunung Batur yang mempersona. Kawasan teluk Padang Baik di sebelah tenggara pulau Bali yang sekarang menjadi pelabuhan penyeberangan Bali - Lombok juga ditata untuk menampung kapal pesiar. Pada akhir 1920-an frekuensi hubungan laut meningkat mencapai rata-rata empat kapal seminggunya merapat di pelabuhan Padang Bay.

Akses menuju Bali semakin terbuka setelah 1930. Pada 1933 dibuka jalur penerbangan Surabaya ke Bali, disusul ada 1934 dibuka pelayaran kapal bolak-balik Gilimanuk Bali barat dan Ketapang Banyuwangi. Sejak 1934 jumlah wisatawan yang mengunjungi Bali per tahun mencapai 3000 orang. Kemampuan akomodasi perhotelan di Bali sebelum Perang Dunia ke II adalah 78 kamar dobel, 48 kamar di Bali Hotel, 16 kamar di Satrya Hotel milik keturunan Tionghoa yang dibangun awal 1930-an di Denpasar dan 6 kamar di KPM Bungalow Hotel di Kintamani. Terdapat juga berapa bungalow yang dikelola orang Amerika di kawasan Kuta.

Sebagian wisatawan umumnya menumpang kapal pesiar yang berlabuh di Padang Bai selama satu atau dua hari. Ada juga yang datang dengan menggunakan kapal KPM yang berlabuh di lepas pantai Buleleng, Singaraja Bali utara. Para wisatawan dari Amerika Utara dan Eropa tiba di Bali setelah menyeberangi Samudera Pasifik atau menelusuri pantai-pantai Asia sesuai dengan rutenya. Mereka menganggap Bali adalah ujung benua Asia atau inti sari Asia yang misterius.

Salah satu acuan infromasi tentang Bali adalah Walter Spies seorang pelukis dan musikus berkebangsaan Jerman yang menetap di Bali semenjak tahun 1927 dan berada di sana hingga waktu Perang Dunia ke II. Dia menjadi pemandu bagi para seniman, pelukis dan tokoh yang akan berkunjung ke Bali. Walter Spies memperkenalkan kepada dunia kekayaan dan keanekaragaman budaya Bali. 

Rumah Walter Spies di Ubud sering kedatangan seniman dan intelektual dari Eropa dan beberapa bangsa lain seperti Antropolog Margaret Mead (asal Amerika), pelukis Miguel Covarrubias (Meksiko), aktor Charlie Chaplin (Amerika), hingga seksolog Magnus Hirschfeld (Jerman). Walter Spies juga mengembangkan kesenian Bali.

Kontribusi lainnya dari Walter Spies pada tahun 1936 mendirikan kelompok seniman Pita Maha bersama Rudolf Bonnet, Gusti Nyoman Lempad, dan Tjokorda Gede Agung Sukawati. Mereka melestarikan seni rupa Bali yang mulai berubah menjadi seni pesanan demi memenuhi permintaan turis.

Di tahun 1936 sepasang suami istri dari Amerika bernama Bob yang berprofesi sebagai fotografer dan istrinya Louise Koke seorang pelukis tiba di Bali. Mereka menulis buku yang menggambarkan bahwa hotel di Bali pada waktu itu sudah mempunyai fasilitas kamar mandi modern dengan air panas. Mereka juga menulis tentang sensualitas perempuan Bali dengan pakaian dada terbuka sebagai hal aneh bagi orang-orang Barat .

Dalam buku yang berjudul Our Hotel in Bali itu menceritakan sukses mereka mendirikan sebuah cottage di kawasan Kuta, dan gambaran menarik situasi kota Denpasar pada masa itu. Mereka melihat perumahan penduduk yang terbuat dari campuran papan, toko kelontong milik orang Cina, sejumlah toko barang antik dan seni, serta toko yang menjual sutera dan batik.

Perang Dunia ke II memberikan keguncangan di Bali. Sejumlah orang Jerman termasuk Walter Spies ditangkap. Dia bersama tawanan Jerman dikirim ke luar Bali. Namun di tengah jalan kapal itu ditenggelamkan oleh armada Jepang. Walter Spies termasuk yang terbunuh.

Penjajah Jepang ketika tiba di Bali tahun 1941

Sejarah mencatat kedatangan Jepang mengakhiri untuk sementara dunia pariwisata Bali. Sehabis Perang Kemerdekaan situasi di Bali mulai pulih sebagai suatu tempat tujuan wisata. Harian Merdeka edisi 6 Januari 1951 memberikan laporan menarik mengenai situasi Bali masa itu. Berbeda dengan di kebanyakan daerah lain di Indonesia yang angka kriminalitas begitu tinggi karena ada permasalahan bekas pejuang dan gerombolan bersenjata yang tidak puas terhadap pemerintah pusat, di Bali menunjukkan situasi yang sebaliknya.

Para wisatawan yang menginap di hotel Bali tidak perlu mengunci pintu kamarnya. Pelayannya malah akan tersinggung kehormatannya jika ada tamu yang mengunci pintu kamarnya. Tak ada pemberitaan lagi perempuan Bali yang tidak memakai baju atasan. 

Jalan Gajah Mada Denpasar tahun 1970-an

di tahun 1950-an tarif taksi di dalam kota Denpasar berkisar 17 sen per Km-nya. Untuk keperluan ke luar kota wisatawan bisa menyewa sebuah mobil sedan dengan tarif Rp 100,- satu kali jalan. Perjalanan Denpasar-Singaraja sejauh 87 Km ditempuh dalam waktu 2,5 jam melalui jalan pegunungan Bedugul. Sementara dengan bus wisatawan menempuh waktu 7 jam dan satu orang harus membayar Rp10,-

Koran Pikiran Rakjat terbitan Bandung edisi 1 Maret 1951 memberitakan adanya kunjungan 135 pelancong Amerika yang berkunjung di Bandung setelah mereka mengadakan kunjungan terlebih dahulu di Bali. Di antara para pelancong itu terdapat nama Robert W. Gobson yang menyatakan bahwa ia berbelanja hingga Rp 300.000,- di Pulau Bali. Ada juga pedagang bernama White pedagang dari North Carolina yang mengaku sudah berkeliling 40 negara namun Bali adalah yang paling eksotis dan menarik.

Pada 1950-an juga perlahan orang-orang Bali mulai merintis kembali pariwisata di daerahnya. Di antara perintis itu ialah Anak Agung Panji Tisna yang menjadi wiraswastawan.

Awalnya dia membangun gedong bioskop “Maya Theater”, kemudian di tahun 1953 A.A.Panji Tisna mulai membangun tempat istirahat atau villa di tepi pantai Kampung Baru, desa Tukad Cebol (sekarang desa Kaliasem). Pada tahun 1956 dunia pariwisata Bali mencatat sejarah ketika Ida Bagus Kompiang dan Anak Agung Mirah Astuti menjadi pengusaha pribumi yang membangun hotel pertama di kawasan Sanur, Denpasar, yang diberi nama Hotel Segara Beach.

Presiden pertama Soekarno juga sering membawa tamu-tamu negara ke Bali seperti Nehru, President Kennedy, dan Ho Chi Minh (Vietnam). 

Pantai Kuta di tahun 1980-an

Di daerah Gianyar Soekarno membangun Istana Tampaksiring ini yang mempunyai panggung khusus untuk pementasan tari-tarian. Pembangunan dimulai pada 1957 dan selesai pada 1963 oleh arsitek RM Soedarsono. Selanjutnya perhatian Presiden Sukarno pada kesenian Bali terlihat pada pengiriman tim kesenian Bali pada tahun 1950-an ke luar Negeri, seperti Czechoslowakia, untuk mempromosikan kebudayaan Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya. 

Pada tahun 1960 kawasan Pantai Kuta masih sepi sekali. Hanya sedikit wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini. Pantai Sanur justru lebih dahulu ramai wisatawan di era tahun 1960 - 1970.

 

Denpasar ibu kota Bali

Suasana malam hari didepan Balai Kota Denpasar
Kantor Balai Kota Denpasar
Kota Denpasar terletak di selatan tengah Pulau Bali, merupakan Ibukota Daerah Tingkat II dan juga merupakan Ibukota Propinsi Bali, sekaligus sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, dan perekonomian. Letak yang strategis ini sangat menguntungkan, baik dari segi ekonomis, maupun kepariwisataan. Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Badung di sebelah Utara, Selat Badung atau Samudera Hindia di sebelah Selatan, Kabupaten Tabanan di sebelah Barat, dan Kabupaten Gianyar di sebelah Timur. Terletak diantara 08 35" 31'-08 44" 49' Lintang Selatan dan 115 10" 23'-115 16" 27' Bujur Timur. Luas seluruh Kota Denpasar 127,78 Km2 atau 12.778 Ha, yang merupakan tambahan dari reklamasi pantai Serangan seluas 380 Ha. Kota Denpasar termasuk daerah beriklim tropis yang dipengaruhi angin musim, sehingga memiliki musim kemarau dengan angin timur ( Juni - Desember ), dan musim hujan dengan angin barat ( September - Maret ), serta diselingi oleh musim pancaroba.
Kawasan Simpang Enam, jalan Teuku Umar
Pada awalnya Denpasar adalah sebuah puri dan akhirnya menjadi kota kerajaan. Denpasar diresmikan pada tahun 1788, oleh pendiri Denpasar I Gusti Ngurah Made Pemecutan. Sebenarnya istilah nama Denpasar sudah muncul sebelum tahun 1788, yaitu ketika wilayah Badung dipimpin dua kerajaan kembar: Puri Pemecutan dan Puri Jambe Ksatrya. Wilayah Badung terdapat dua pusat kekuasaan, yaitu Puri Alang Badung (di daerah Suci) dan Puri Pemecutan. Dalam perkembangannya, Puri Alang Badung dipindahkan ke sebelah utara Pasar Satria sekarang. Puri baru itu kemudian diberi nama Jambe Ksatrya untuk mengenang garis keturunan Kyai Jambe Pule yang kemudian dianggap sebagai pendiri Kerajaan Badung. Dua kerajaan kembar ini sama-sama merupakan keturunan Kyai Jambe Pule. Keduanya juga memerintah bersama-sama. Wilayah sebelah barat Tukad Badung dikontrol oleh Puri Pemecutan, sedangkan wilayah sebelah timur Tukad Badung dikontrol oleh Puri Jambe Ksatrya.
Kawasan pedestrian Jl. Gajah Mada
Penguasa Jambe Ksatrya dikenal gemar bermain adu ayam. Saking gemarnya, sampai-sampai Kyai Anglurah Jambe Ksatrya mengundang raja-raja lain di Bali untuk bermain adu ayam di Puri Jambe Ksatrya. Karena kerap mengundang raja-raja lain datang ke Jambe Ksatrya, sang raja kemudian mendirikan sebuah taman, semacam tempat peristirahatan di sebelah selatan puri dan sebelah utara pasar. Pada awalnya Pasar Badung berada di sekitar lapangan Puputan Badung kini, tepat di sebelah selatan Puri Denpasar (gedung Jaya Sabha). Saat Badung dikuasai Belanda, pasar itu dipindah ke barat, dekat Tukad Badung. Itu sebabnya, pasar baru itu disebut Pasar Badung. Taman yang didirikan Kyai Jambe Ksatrya itulah yang dinamai Taman Denpasar. Sejak itulah nama Denpasar mulai muncul dan sering disebut.
Pasar Kumba Sari
Denpasar lebih dikenal lagi ketika I Gusti Ngurah Made Pemecutan yang mengambil alih kekuasaan Kyai Jambe Ksatrya memilih Taman Denpasar sebagai lokasi puri. Nama Denpasar diambil dari kata "Den" yang artinya utara dan "Pasar" yang artinya pasar, nama ini diambil karena letaknya di utara pasar Kumbasari.
Pasar Badung
Denpasar pada 1950-an sudah mempunyai tiga buah bioskop. Film Indonesia dilaporkan diputar selama seminggu 4 kali sehari. Ruangannya selalu padat oleh rakyat dari segala lapisan. Denpasar resmi menjadi ibu kota provinsi Bali semenjak tahun 1960 menggantikan Singaraja di Bali utara. Status Denpasar ditetapkan sebagai kota administrative berdasarkan Peraturan Pemerintah No 20 Tahun 1978. Status Denpasar ditingkatkan lagi menjadi kota madya berdasarkan Undang-undang No 1 Tahun 1992 tanggal 15 Januari 1992. Status kota madya diresmikan tanggal 27 Februari 1992.

Pada tahun 1970-an kota Denpasar belum seramai kini. Jalan-jalan yang ada masih lebih lengang. Selain berjalan kaki, orang-orang lebih banyak berkendara sepeda gayung. Di setiap ruang sirkulasi publik, dokar masih hilir mudik. Sepeda motor tak seberapa jumlahnya. Terlebih mobil, amat jarang lalu lalang, kecuali bemo (roda tiga). Hampir semua jalan bisa dilalui dua arah. Banjir dan tanah longsor jarang terjadi. Udarapun nyaman dihirup, jauh dari polusi, suasana kota tidak bising.

Denpasar memiliki banyak obyek wisata. Salah satunya yang paling terkenal adalah Pantai Sanur yang memiliki ombak tenang dan bisa untuk beberapakegiatan olahraga air. Di pusat kota Denpasar terdapat beberapa tempat wisata bersejarah dan tempat-tempat menarik untuk dikunjungi seperti Museum Bali di timur lapangan Puputan Badung, Monumen Bajra Sandhi di Renon, Monumen Puputan Badung, Taman Budaya Art Centre, Pasar Kumbasari tempat dijualnya barang kerajinan dan kain batik.

Untuk wisata kuliner di Denpasar juga banyak ditemui restoran-restoran ataupun warung makan yang menyajikan makanan lokal maupun internasional. Bandar udara internasional Ngurah Rai dapat ditempuh kurang lebih 30 menit dari kota Denpasar dan telah dibangun akses jalan menuju Bandara melalui Tol Bali Mandara.
Monumen Bajra Sandhi di Renon
Banyak tantangan yang dihadapi semenjak Denpasar menjadi ibu kota provinsi. Hal ini disebabkan dengan semakin banyaknya persoalan sebagai akibat proses migrasi yang begitu cepat, ketika Bali dan Denpasar sebagai pusat industri pariwisata di Indonesia Bagian Tengah.

Denpasar yang artinya Pasar Baru sekarang berkembang menjadi kota semi metropoilitan seperti kebanyakan kota kota besar lainnya di Indonesia dengan komposisi pendudukan mayoritas dihuni penduduk suku Bali, ditambah suku Jawa yang merupakan masyarakat pendatang paling dominan, sebagian kecil suku Sunda, Flores dan beberapa suku lain. Teuku Umar, Imam Bonjol, Diponegoro merupakan nama nama jalan protokol yang menjadi urat nadi perekonomian di Denpasar.

Sabtu, 11 Juli 2015

Pantai Blue Point Uluwatu

 

Pantai ini juga disebut  Pantai Suluban. Masyarakat setempat sering menyebutnya dengan nama Pantai Suluban, yaitu berasal dari kata Mesulub yang artinya dalam bahasa Bali “Lewat dibawah sesuatu”.

Pantai Blue Point Uluwatu memiliki keunikan tersendiri  jika dibandingkan dengan pantai-pantai di Bali lainnya. Pantai ini berada di bawah tebing-tebing terjal yang tinggi. Sehingga untuk mencapai bibir pantai, Anda harus berjalan kaki  menuruni anak tangga di antara tebing-tebing yang sudah menjelma dengan dipenuhi Cafe  dan penjual souvenir.

Keunikan dari Pantai  Blue Point  adalah hamparan batu karang  yang besar dan membelah seperti  lorong yang digunakan jalan bagi wisatawan untuk menuju bibir pantai. Anda disarankan berjalan dengan hati hati karena tangga untuk turun ke bibir pantai lumayan terjal. Tetapi jangan kuatir karena hawa yang sejuk akan anda rasakan selama menuruni tebing menjelang bibir pantai. 

Pantai ini  dikelilingi tebing yang tinggi. Dari atas tebing anda sudah bisa melihat pinggir pantai yang jernih dengan dasar  laut yang menakjubkan.

Terletak berdekatan dengan lokasi obyek wisata Pura Uluwatu dan Pantai Padang Padang, untuk dapat sampai ke pantai Blue Point  dibutuhkan waktu kurang lebih  35 menit dari Bandara Ngurah Rai dengan menggunakan Sepeda Motor. Rute yang dilewati adalah dari Bundaran Bandara ke arah selatan menyusuri jalan By Pass Ngurah Rai, sampai ketemu lampu merah McDonald belok ke kanan masuk jalan Kampus Udayana sampai ketemu jalan raya Uluwatu belok ke kiri. Kemudian Anda tinggal lurus terus, sebelum masuk kawasan Pura Uluwatu belok ke kanan.

Di Pantai Blue Point, ada dua pilihan yang bisa anda lakukan, yaitu dengan  turun ke bibir pantai bermain air sambil melihat dasar pantai yang menawan, apabila air pantai sedang surut anda bisa berjalan menyusuri karang ke arah tengah laut atau cukup dengan menikmati dari atas tebing sambil nongkrong di deretan cafe yang berjejeran di tepi tebing. Menikmati sunset adalah satu pilihan yang tepat bila anda berkunjung ke tempat ini.

 

Senin, 06 Juli 2015

Tari Kecak Uluwatu Bali

Salah satu obyek wisata yang paling terkenal di pulau Bali adalah Pura Uluwatu yang didalamnya setiap sore hari diadakan pertunjukan Tari Kecak.

Pura ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi bagi perkembangan Agama Hindu di Bali. Pura Uluwatu dibangun di abad XI dan terletak di sebelah barat daya pulau Bali, berdiri kokoh di atas batu karang setinggi kurang lebih 90 meter di atas permukaan laut. Sekitar kawasan ini juga dikelilingi kawasan hutan lindung yang berfungsi sebagai habitat bagi monyet yang sering berkeliaran di area Pura Uluwatu. Pura Uluwatu mengalami beberapa pemugaran, yaitu di tahun 1979, 1997, dan tahun 2000. Dari kawasan bukit Uluwatu ini mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan menawan tebing karang dan lautan lepas.

Obyek wisata ini semakin menarik dengan digelarnya pertunjukan Tari Kecak dan konon merupakan pertunjukan Tari Kecak terbaik di Bali. Tari Kecak Uluwatu merupakan kebudayaan asli Bali yang terus dijaga dan dilestarikan oleh kelompok masyarakat Desa Pecatu.

Pementasan Tari Kecak di Pura Uluwatu mengambil tema cerita Ramayana. Pertunjukan ini menjadi  wisata favorit bagi para wisatawan yang datang ke Pura Uluwatu. Lokasi pertunjukan berupa panggung disebelah kiri pura dengan bentuk setengah lingkaran dengan latar belakang lautan lepas, akan menjadi sempurna apabila cuaca cerah karena kita juga bisa sambil menikmati saat-saat matahari tenggelam.


 

Tari Kecak Uluwatu dipentaskan setiap sore hari antara jam 18.00 - 19.00 WITA (keculai Hari Raya Nyepi dan Pengerupukan) dengan kapasitas penonton ±1400 orang.

Pantai Balangan Yang Eksotik


Salah pantai yang harus dikunjungi bila berkunjung ke Pulau Bali adalah Pantai Balangan. Pantai yang eksotik ini bisa ditempuh sekitar kurang lebih 35 menit dari Bandara Ngurah Rai, dengan kendaraan roda dua. Lokasi pantai Balangan terletak di wilayah Desa Ungasan, Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Bali. Rute menuju Pantai Balangan adalah melewati obyek wisata GWK terus ke selatan sampai kita menjumpai perempatan terus belok kanan mengikuti jalan berkelok-kelok. Pantai ini sudah cukup ramai dikunjungi wisatawan terutama dari mancanegara.

Pantai ini menghadap ke utara, dan berada satu deretan dengan Pantai Dreamland dan Pantai Tegal Wangi. Keistimewaan Pantai Balangan adalah memiliki tebing yang menakjubkan dan juga hamparan pasir yang lembut.

Aktivitas bandara Ngurah Rai nampak dari kejauhan, jika anda berdiri di tebing tepi pantai. Dari tebing pantai Balangan anda juga dapat melihat dasar laut  pinggir pantai yang menakjubkan dan keindahan garis tepi pantai sisi barat Bali dengan kombinasi tebing dan batu karang.

Salah satu saat terbaik mengunjungi Pantai Balangan adalah di sore hari. Disamping cuaca sudah tidak terlalu panas, bila cuaca cerah kita bisa menikmati panorama Sunset dengan sempurna. Inilah moment yang selalu ditunggu para wisatawan yan berkunjung ke Pantai ini. Selain pesona keindahan pantai yang masih alami, Pantai Balangan juga menjadi lokasi favorit para peselancar. Ini didukung dengan ombaknya yang lumayan besar. 

Tempat ini juga sering dijadikan sebagai lokasi prewedding. Setiap hari selalu ada fotografer yang mengabadikan prewedding disini. Terutama dari mancanegara seperti Korea dan Tiongkok. Pantai Balangan merupakan kombinasi antara pantai berpasir dan tebing karang yang menawan. Pasir putihnya yang halus dengan latar belakang bukit menghijau, sangat mendukung untuk dijadikan latar belakang pemotretan. Pantai Balangan dengan segala keindahannya, sangat tepat menjadi pilihan destinasi untuk dikunjungi selama berwisata di Bali.

Bila anda berminat mengunjungi obyek wisata ini, BackPack Ojek Bali siap mengantar anda untuk memanjakan mata menikmati eksotisnya Pantai Balangan.

Translate