Tampilkan postingan dengan label ojek online denpasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ojek online denpasar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juli 2015

Denpasar ibu kota Bali

Suasana malam hari didepan Balai Kota Denpasar
Kantor Balai Kota Denpasar
Kota Denpasar terletak di selatan tengah Pulau Bali, merupakan Ibukota Daerah Tingkat II dan juga merupakan Ibukota Propinsi Bali, sekaligus sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, dan perekonomian. Letak yang strategis ini sangat menguntungkan, baik dari segi ekonomis, maupun kepariwisataan. Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Badung di sebelah Utara, Selat Badung atau Samudera Hindia di sebelah Selatan, Kabupaten Tabanan di sebelah Barat, dan Kabupaten Gianyar di sebelah Timur. Terletak diantara 08 35" 31'-08 44" 49' Lintang Selatan dan 115 10" 23'-115 16" 27' Bujur Timur. Luas seluruh Kota Denpasar 127,78 Km2 atau 12.778 Ha, yang merupakan tambahan dari reklamasi pantai Serangan seluas 380 Ha. Kota Denpasar termasuk daerah beriklim tropis yang dipengaruhi angin musim, sehingga memiliki musim kemarau dengan angin timur ( Juni - Desember ), dan musim hujan dengan angin barat ( September - Maret ), serta diselingi oleh musim pancaroba.
Kawasan Simpang Enam, jalan Teuku Umar
Pada awalnya Denpasar adalah sebuah puri dan akhirnya menjadi kota kerajaan. Denpasar diresmikan pada tahun 1788, oleh pendiri Denpasar I Gusti Ngurah Made Pemecutan. Sebenarnya istilah nama Denpasar sudah muncul sebelum tahun 1788, yaitu ketika wilayah Badung dipimpin dua kerajaan kembar: Puri Pemecutan dan Puri Jambe Ksatrya. Wilayah Badung terdapat dua pusat kekuasaan, yaitu Puri Alang Badung (di daerah Suci) dan Puri Pemecutan. Dalam perkembangannya, Puri Alang Badung dipindahkan ke sebelah utara Pasar Satria sekarang. Puri baru itu kemudian diberi nama Jambe Ksatrya untuk mengenang garis keturunan Kyai Jambe Pule yang kemudian dianggap sebagai pendiri Kerajaan Badung. Dua kerajaan kembar ini sama-sama merupakan keturunan Kyai Jambe Pule. Keduanya juga memerintah bersama-sama. Wilayah sebelah barat Tukad Badung dikontrol oleh Puri Pemecutan, sedangkan wilayah sebelah timur Tukad Badung dikontrol oleh Puri Jambe Ksatrya.
Kawasan pedestrian Jl. Gajah Mada
Penguasa Jambe Ksatrya dikenal gemar bermain adu ayam. Saking gemarnya, sampai-sampai Kyai Anglurah Jambe Ksatrya mengundang raja-raja lain di Bali untuk bermain adu ayam di Puri Jambe Ksatrya. Karena kerap mengundang raja-raja lain datang ke Jambe Ksatrya, sang raja kemudian mendirikan sebuah taman, semacam tempat peristirahatan di sebelah selatan puri dan sebelah utara pasar. Pada awalnya Pasar Badung berada di sekitar lapangan Puputan Badung kini, tepat di sebelah selatan Puri Denpasar (gedung Jaya Sabha). Saat Badung dikuasai Belanda, pasar itu dipindah ke barat, dekat Tukad Badung. Itu sebabnya, pasar baru itu disebut Pasar Badung. Taman yang didirikan Kyai Jambe Ksatrya itulah yang dinamai Taman Denpasar. Sejak itulah nama Denpasar mulai muncul dan sering disebut.
Pasar Kumba Sari
Denpasar lebih dikenal lagi ketika I Gusti Ngurah Made Pemecutan yang mengambil alih kekuasaan Kyai Jambe Ksatrya memilih Taman Denpasar sebagai lokasi puri. Nama Denpasar diambil dari kata "Den" yang artinya utara dan "Pasar" yang artinya pasar, nama ini diambil karena letaknya di utara pasar Kumbasari.
Pasar Badung
Denpasar pada 1950-an sudah mempunyai tiga buah bioskop. Film Indonesia dilaporkan diputar selama seminggu 4 kali sehari. Ruangannya selalu padat oleh rakyat dari segala lapisan. Denpasar resmi menjadi ibu kota provinsi Bali semenjak tahun 1960 menggantikan Singaraja di Bali utara. Status Denpasar ditetapkan sebagai kota administrative berdasarkan Peraturan Pemerintah No 20 Tahun 1978. Status Denpasar ditingkatkan lagi menjadi kota madya berdasarkan Undang-undang No 1 Tahun 1992 tanggal 15 Januari 1992. Status kota madya diresmikan tanggal 27 Februari 1992.

Pada tahun 1970-an kota Denpasar belum seramai kini. Jalan-jalan yang ada masih lebih lengang. Selain berjalan kaki, orang-orang lebih banyak berkendara sepeda gayung. Di setiap ruang sirkulasi publik, dokar masih hilir mudik. Sepeda motor tak seberapa jumlahnya. Terlebih mobil, amat jarang lalu lalang, kecuali bemo (roda tiga). Hampir semua jalan bisa dilalui dua arah. Banjir dan tanah longsor jarang terjadi. Udarapun nyaman dihirup, jauh dari polusi, suasana kota tidak bising.

Denpasar memiliki banyak obyek wisata. Salah satunya yang paling terkenal adalah Pantai Sanur yang memiliki ombak tenang dan bisa untuk beberapakegiatan olahraga air. Di pusat kota Denpasar terdapat beberapa tempat wisata bersejarah dan tempat-tempat menarik untuk dikunjungi seperti Museum Bali di timur lapangan Puputan Badung, Monumen Bajra Sandhi di Renon, Monumen Puputan Badung, Taman Budaya Art Centre, Pasar Kumbasari tempat dijualnya barang kerajinan dan kain batik.

Untuk wisata kuliner di Denpasar juga banyak ditemui restoran-restoran ataupun warung makan yang menyajikan makanan lokal maupun internasional. Bandar udara internasional Ngurah Rai dapat ditempuh kurang lebih 30 menit dari kota Denpasar dan telah dibangun akses jalan menuju Bandara melalui Tol Bali Mandara.
Monumen Bajra Sandhi di Renon
Banyak tantangan yang dihadapi semenjak Denpasar menjadi ibu kota provinsi. Hal ini disebabkan dengan semakin banyaknya persoalan sebagai akibat proses migrasi yang begitu cepat, ketika Bali dan Denpasar sebagai pusat industri pariwisata di Indonesia Bagian Tengah.

Denpasar yang artinya Pasar Baru sekarang berkembang menjadi kota semi metropoilitan seperti kebanyakan kota kota besar lainnya di Indonesia dengan komposisi pendudukan mayoritas dihuni penduduk suku Bali, ditambah suku Jawa yang merupakan masyarakat pendatang paling dominan, sebagian kecil suku Sunda, Flores dan beberapa suku lain. Teuku Umar, Imam Bonjol, Diponegoro merupakan nama nama jalan protokol yang menjadi urat nadi perekonomian di Denpasar.

Sabtu, 11 Juli 2015

Pantai Blue Point Uluwatu

 

Pantai ini juga disebut  Pantai Suluban. Masyarakat setempat sering menyebutnya dengan nama Pantai Suluban, yaitu berasal dari kata Mesulub yang artinya dalam bahasa Bali “Lewat dibawah sesuatu”.

Pantai Blue Point Uluwatu memiliki keunikan tersendiri  jika dibandingkan dengan pantai-pantai di Bali lainnya. Pantai ini berada di bawah tebing-tebing terjal yang tinggi. Sehingga untuk mencapai bibir pantai, Anda harus berjalan kaki  menuruni anak tangga di antara tebing-tebing yang sudah menjelma dengan dipenuhi Cafe  dan penjual souvenir.

Keunikan dari Pantai  Blue Point  adalah hamparan batu karang  yang besar dan membelah seperti  lorong yang digunakan jalan bagi wisatawan untuk menuju bibir pantai. Anda disarankan berjalan dengan hati hati karena tangga untuk turun ke bibir pantai lumayan terjal. Tetapi jangan kuatir karena hawa yang sejuk akan anda rasakan selama menuruni tebing menjelang bibir pantai. 

Pantai ini  dikelilingi tebing yang tinggi. Dari atas tebing anda sudah bisa melihat pinggir pantai yang jernih dengan dasar  laut yang menakjubkan.

Terletak berdekatan dengan lokasi obyek wisata Pura Uluwatu dan Pantai Padang Padang, untuk dapat sampai ke pantai Blue Point  dibutuhkan waktu kurang lebih  35 menit dari Bandara Ngurah Rai dengan menggunakan Sepeda Motor. Rute yang dilewati adalah dari Bundaran Bandara ke arah selatan menyusuri jalan By Pass Ngurah Rai, sampai ketemu lampu merah McDonald belok ke kanan masuk jalan Kampus Udayana sampai ketemu jalan raya Uluwatu belok ke kiri. Kemudian Anda tinggal lurus terus, sebelum masuk kawasan Pura Uluwatu belok ke kanan.

Di Pantai Blue Point, ada dua pilihan yang bisa anda lakukan, yaitu dengan  turun ke bibir pantai bermain air sambil melihat dasar pantai yang menawan, apabila air pantai sedang surut anda bisa berjalan menyusuri karang ke arah tengah laut atau cukup dengan menikmati dari atas tebing sambil nongkrong di deretan cafe yang berjejeran di tepi tebing. Menikmati sunset adalah satu pilihan yang tepat bila anda berkunjung ke tempat ini.

 

Senin, 06 Juli 2015

Tari Kecak Uluwatu Bali

Salah satu obyek wisata yang paling terkenal di pulau Bali adalah Pura Uluwatu yang didalamnya setiap sore hari diadakan pertunjukan Tari Kecak.

Pura ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi bagi perkembangan Agama Hindu di Bali. Pura Uluwatu dibangun di abad XI dan terletak di sebelah barat daya pulau Bali, berdiri kokoh di atas batu karang setinggi kurang lebih 90 meter di atas permukaan laut. Sekitar kawasan ini juga dikelilingi kawasan hutan lindung yang berfungsi sebagai habitat bagi monyet yang sering berkeliaran di area Pura Uluwatu. Pura Uluwatu mengalami beberapa pemugaran, yaitu di tahun 1979, 1997, dan tahun 2000. Dari kawasan bukit Uluwatu ini mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan menawan tebing karang dan lautan lepas.

Obyek wisata ini semakin menarik dengan digelarnya pertunjukan Tari Kecak dan konon merupakan pertunjukan Tari Kecak terbaik di Bali. Tari Kecak Uluwatu merupakan kebudayaan asli Bali yang terus dijaga dan dilestarikan oleh kelompok masyarakat Desa Pecatu.

Pementasan Tari Kecak di Pura Uluwatu mengambil tema cerita Ramayana. Pertunjukan ini menjadi  wisata favorit bagi para wisatawan yang datang ke Pura Uluwatu. Lokasi pertunjukan berupa panggung disebelah kiri pura dengan bentuk setengah lingkaran dengan latar belakang lautan lepas, akan menjadi sempurna apabila cuaca cerah karena kita juga bisa sambil menikmati saat-saat matahari tenggelam.


 

Tari Kecak Uluwatu dipentaskan setiap sore hari antara jam 18.00 - 19.00 WITA (keculai Hari Raya Nyepi dan Pengerupukan) dengan kapasitas penonton ±1400 orang.

Translate